Orang Muda garda terdepan menjaga Wilayah Adat Papua

5 Min Read

Dalam rangkaian memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), maka perkumpulan Kowaki Tanah Papua menggelar kegiatan diskusi webinar Diskusi Orang Muda (DOM) Papua dengan topik “Gerakan Orang Muda Papua dalam menyelamatkan Hutan dan melindungi Hak-hak Masyarakat Adat Papua” pada Selasa (08/08/2023).

Kegiatan yang menghadirkan dua orang pemantik yakni Tasya Manong Juru Bicara Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Hutan dan Hak Masyarakat Adat (AMPERAMADA) Papua dan Samuel Moifilit dari Gerakan Malamoi. Kedua orang muda ini berbagi pengalaman mereka dalam menyikapi investasi yang sedang mengancam wilayah adat di Tanah Papua terutama perkebunan skala besar.

Anastasya Manong yang juga sebagai Deputi I Pengkampanye Hak Masyarakat Adat, Kelestarian Hutan Hujan dan Keadilan Iklim Kowaki Tanah Papua mengatakan dalam situasi sekarang ini bahwa ada ancaman besar terhadap wilayah adat orang Papua. Dan hal ini juga terjadi kepada marga Woro dari Suku Awyu yang sedang melakukan gugatan terhadap SK No 82/2021 tentang ijin lingkungan yang dikeluarkan oleh Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Provinsi Papua di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura, Papua.

Kaitan dengan ini sebagai bentuk solidaritas kepada marga Woro, maka dirinya menginisiasi Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Hutan dan Hak-Hak Masyarakat Adat (AMPERAMADA) Papua. “Kami memberikan dukungan kepada mereka dengan membangung konsolidasi dan komunikasi, nonton bersama, photo ops dan membuat video singkat kepada masyarakat adat Awyu”, ujar Tasya Manong. Kami juga mendukung perjuangan seluruh masyarakat adat di Tanah Papua untuk menyelamatkan Hutan Hujan serta pemenuhan hak-hak masyarakat adat Papua yang selama ini cenderung diabaikan.

Sementara itu Samuel Moifilit mengatakan bahwa Suku Besar adalah Moi dan terdapat 8 sub suku Moi diantara Moi Sigin, Moi Maya, dan lainnya. Dirinya menjelaskan bahwa pada tahun 2022 melakukan diskusi rutin diinternal anak-anak muda. Kitorang lihat bahwa serangan investasi banyak masuk ke Sorong Raya maka akan merusak tanah, ketidakjelasan hak atas tanah dan untuk masa depan kami terancam. Maka kami mendorong berdirinya Gerakan Selamatkan Manusia, tanah dan Hutan Malamoi yang mengawal isu tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Bendungan Warsunsun ( di Kali Klasow), lalu perusahan sawit yang bernama PT. Sorong Global Lestari dan kemudian ada PT. Hutan Hijau Papua Barat. Pengalaman masyarakat adat Moi telah lama mempunyai pengalaman buruk misalnya sejak jaman Belanda berawal pada 1928 saat ditemukannya cadangan minyak di Sorong. Kemudian perusahaan milik Belanda, Nederlandsch Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) melakukan pengeboran mulai 1932 hingga 1935 dan kemudian setelah Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 kemudian perusahaan tersebut di nasionalisasi menjadi asset PT.Pertamina yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cenderung hanya memikirkan keuntungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat Moi.

“Bagi kami investasi menunjukan bahwa ini tidak membawa manfaat kepada masyarakat adat Papua pada umumnya,” ujar Muel Moifilit yang juga sebagai seorang filmmaker. Ditambahkannya bahwa isu lainnya adalah tentang adanya Daerah Otonom Baru (DOB) yakni Provinsi Papua Barat Daya yang kemudian akan diikuti oleh pemekaran 6 kabupaten.

Sementara Wirya Supriyadi seorang pegiat lingkungan dan hak masyarakat adat Papua mengatakan bahwa saat ini memang apa yang terjadi di Papua tidak lepas dari konstelasi politik ekonomi global di dunia. Dimana dengan kebutuhan “Food dan Energi” kemudian menjadi alasan ekpansi perkebunan skala besar, penebangan pohon merbau yang punya nilai ekonomis, juga exploitasi migas dan mineral. Dan memang saat ini dimana memang konsep pembangunan dan ekonomi yang liberal yang salah satunya dengan memudahkan masuknya investasi masuk termasuk ke Tanah Papua, padahal Tanah Papua bukan tanah kosong yang kemudian pemerintah seenaknya mengeluarkan ijin.

“Saya mengapresiasi terhadap orang muda Papua yang berjuang digaris depan untuk melindungi hutan hujan Papua, wilayah Adat Papua dan melindungi hak-hak masyarakat adat dengan keterampilan dan pengetahuan yang mereka punyai. Orang muda adalah agen perubahan dan juga yang pastinya mereka yang akan menjadi penerus generasi bangsa. Saya menghimbau agar orang muda melakukan konsolidasi untuk menjaga wilayah adat mereka masing-masing,” tegas Wirya Supriyadi yang merupakan pegiat lingkungan dan gerakan orang muda.

Webinar yang digelar perkumpulan Kowaki Tanah Papua dalam rangkaian memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) yang jatuh pada tanggal 09 Agustus 2023.

Share This Article